Sabtu, 10 Desember 2011

on Leave a Comment

Kisah Sang Tikus

Seekor tikus mengintip di balik celah di tembok untuk mengamati sang petani dan isterinya membuka sebuah bungkusan. Ada makanan pikirnya? dia terkejut sekali, ternyata bungkusan itu berisi perangkap tikus. Lari kembali ke ladang pertanian itu, tikus itu menjerit memberi peringatan "Awas, ada perangkap tikus di dalam rumah, hati-hati ada perangkap tikus di dalam rumah!"

 

Sang ayam dengan tenang berkokok dan sambil tetap menggaruk tanah, mengangkat kepalanya dan berkata, "Ya maafkan aku Pak Tikus, aku tahu ini memang masalah besar bagi kamu, tapi buat aku secara pribadi tak ada masalahnya. Jadi jangan buat aku peninglah."

 

Tikus berbalik dan pergi menuju sang kambing, katanya, "Ada perangkap tikus di dalam rumah, sebuah perangkap tikus di rumah!" "Wah, aku menyesal dengar kabar ini, si kambing menghibur dengan penuh simpati. Tetapi tak ada sesuatupun yang bisa kulakukan kecuali berdoa. Yakinlah, kamu sentiasa ada dalam doa doaku!"

 

Tikus kemudian berbelok menuju si lembu. "Oh? sebuah perangkap tikus, jadi saya dalam bahaya besar ya?" kata lembu itu sambil ketawa. Jadi tikus itu kembalilah ke rumah, kepala tertunduk dan merasa begitu patah hati, kesal dan sedih, terpaksa menghadapi perangkap tikus itu sendirian.

 

Malam itu juga terdengar suara bergema diseluruh rumah, seperti bunyi perangkap tikus yang berjaya menangkap mangsanya. Isteri petani berlari pergi melihat apa yang terperangkap. Di dalam kegelapan itu dia tak bisa melihat bahwa yang terjebak itu adalah seekor ular berbisa. Ular itu sempat mematuk tangan isteri petani itu. Petani itu bergegas membawanya ke rumah sakit.

 

Dia kembali ke rumah dengan demam. Sudah menjadi kebiasaan setiap orang akan memberikan orang yg sakit demam panas minum sup ayam segar, jadi petani itu pun mengambil goloknya dan pergilah dia ke belakang mencari bahan-bahan untuk supnya itu.

 

Penyakit isterinya berkelanjutan sehingga teman-teman dan tetangganya datang menjenguk, dari jam ke jam selalu ada saja para tamu. Petani itupun menyembelih kambingnya untuk memberi makan para tamu itu. Isteri petani itu tak kunjung sembuh. Dia mati, jadi makin banyak lagi orang-orang yang datang untuk pemakamannya sehingga petani itu terpaksalah menyembelih lembunya agar dapat memberi makan para pelayat itu.

 

 

Apabila kita mendengar ada seseorang yang menghadapi masalah, janganlah berpikir bahwa itu tidak ada kaitannya dengan diri kita. Ingatlah bahwa sebuah perangkap tikus dapat menyebabkan seluruh 'ladang pertanian' ikut menanggung risikonya.

 

Ladang Pertanian Ibarat Lingkungan Kita Sehari-hari

Berhentilah Mementingkan Diri Sendiri

Berhentilah Memikirkan Keselamatan Sendiri

 

Why?

Karena sikap mementingkan diri sendiri lebih banyak keburukan dari baiknya. Mari kita refleksikan sifat yang di wakili oleh si Ayam (cuek), si Lembu (menertawakan orang lain), si Kambing (munafik) atau si Ular (lengah hingga terperangkap).

0 komentar:

Poskan Komentar

tidak akan ditampilkan jika kata-katanya mengandung unsur Penghinaan, Rasis, Pornografi.

offsetWidth); }